Kamis, 05 Mei 2016

LITTLE BIG MASTER

Melihat Pendidikan dariDrama Hongkong 2015

gambar dari Link

LITTLE BIG MASTER


 Kepala sekolah kecil, istilah lainnya jika dirubah menjadi bahasa Indonesia. Kisah ini diperankan oleh seorang guru dari Hongkong yang mengerti betul kebutuhan pendidikan bagi anak usia dini. Lembut, sikapnya ke-ibuan penuh kasih sayang.
        Namanya Lui Wai Hung, kepala sekolah TK Internasional. Ia telah lama bekerja disana. Suaminya, Mr. Dong-dong bekerja di museum. Mr. Dong-dong sangat mencintainya, dia bangga mempunyai seorang istri yang membuat dia sendiri bangga akan dirinya olehnya.

Ada sebuah desa, Yuen Tin namanya. Warga disana mayoritas keluarga kurang mampu.Karena banyaknya keluarga yang seperti itu, maka seorang kakek dan istrinya mempelopori sekolah gratis alias tanpa biaya untuk membantu mereka. Tahun-tahun sebelumnya, sekolah itu beroperasi dengan baik dan lancar. Ya, layaknya sekolahan, ada guru juga ada siswa. Pemerintah pun ikut berkontribusi menyediakan apa-apa yang diperlukan.Namun, tahun ini ada kabar tidak sedap dari bibir ke bibir, dikabarkan bahwa sekolah tersebut akan dibubarkan dan ditutup. Sehingga, masyarakat pun terbius akan berita itu, dan membuat mereka tidak lagi menyekolahkan anak-anaknya. Hanya tersisa 5 orang anak yang salah satu dari mereka harus sudah lulus di tahun ajaran ini. 

Dahulu, pemerintah sangat berkontribusi terhadapnya. Namun, karena alasan keterbatasan siswa, pemerintah pun lepas tangan.Mengetahuihal itu, Lui Wai Hung tidak tega menelantarkan anak-anak manis itu, segera ia mencari tahu informasi dan melangkah ke lokasi. Saat sampai, ia mengintip dari jendela dan terlihat 5 siswa tertidur di dalam kelas. Ketika mengamati sekitar itu dari jendela, salah satu anak terbangun, kaget, dan refleknya teriak lalu sembunyi di papan tulis. Teman yang lain pun terbangun dan mengikutinya. Perlahan Lui Wai Hung merayu mereka, mengambil hati mereka agar tidak menganggap ia orang jahat. Dengan caranya ia berhasil merayu mereka dengan mempertanyakan“jumlah kaki hewan-hewan yang tergambar” di papan tulis itu. Sedang asyiknya mereka saling bercengkrama, tiba-tiba petir hebat terdengar keras dengan suasana mendung yang horor. Seorang perempuan pun datang dan mengusirnya. Lalu membawa anak-anak keluar kelas, karena hujan.
Sehari setelahnya, Lui Wai Hung bersama suaminya menghampiri kakek dan istri yang mempelopori sekolah tersebut. Kakek dan istrinya itu sudah pasrah dengan keadaan sekolah. Namun, Lui Wai Hung meyakinkan mereka bahwa ia bisa melanjutkan mendidik 5 anak dan meluluskan salah satu diantaranya. Kakek itu pu percaya akan ucapannya. Karena melihat ambisi dan niat baiknya, suami Lui Wai Hung pun pada akhirnya mengijinkan ia mengajar sekolah kembali.
Hari pertama sekolah dimulai. Anak-anak berdatangan satu per satu bersama wali mereka. Orang-orang yang sedang duduk di warung depan sekolah melihat dengan sinisdan menghujat bahwa sekolah itu tidak akan berlangsung lama. Namun, Lui Wai Hung tidak pernah mendengarkan kalimat negatif itu.
Setelah semua datang, lalu mereka berjalan menuju ke kelas. Kondisi anak-anak memakai masker dan masih sangat canggung. Lui Wai Hung harus merayu lagi anak-anak, supaya mau melepas maskernya. Ia memerintahkan mereka berdiri, membuka masker, dan berkata “hadir” saat disebut namanya. Awalnya ia yang mencontohkan dirinya. Anak-anak pun mulai mau membuka mulut dan bicara sangat dekat.
Ho Siu-Shet, hadir !
Kitty Fatima, hadir !
Jennie Fatima, Hadir !
Tam Mei-Chu, hadir !
Lo Ka-Ka, hadir !
Dan semua tersenyum dan tertawa riang gembira. Karena belum kenal secara jauh. Lui Wai Hung, mengisi hari pertama untuk mengenal mereka lebih dekat. Satu per satu maju dan menceritakan hal yang membuat bahagia dan yang membuat mereka terganggu. Dimulai dari Ho Siu-Shet hingga Lo Ka-Ka yang terahir. Jawaban mereka bervariasi. Namun, dari kegiatan itu membuat Liu Wai Hung mengerti gambaran kisah hidup dan yang mereka jalani sehari-hari.
Ho Siu-Shet, ia hidup bersama ayahnya yang sudah lanjut usia. Ibunya sudah lama pergi ke china bersama kakaknya, namun tak kunjung kembali. Ia sangat mandiri, menyediakan semua keperluannya dan ayahnya sendiri. Saat Liu Wai Hung mengendarai mobil untuk pulang, ia melihat Ho Siu-Shet sedang bercengkerama dengan orang dewasa. Ternyata ia telah menjual rongsok dan berjalan menuju rumah setelahnya. Liu Wai Hung mengikutinya dan berkunjung ke rumahnya. Waktu itu ayahnya sedang sakit. Ia merawat dan mengurus ayahnya sendiri dengan payah. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sebenarnya ia sangat rindu sosok seorang ibu hadir dalam hidupnya. Namun, mau bagaimana lagi ibunya tidak pernah kembali.
Kitty Fatima dan Jennie Fatima, mereka kembar dan selalu sama-sama. Mereka lebih beruntung dari teman yang lainnya, karena kedua orang tua mereka masih bersama mereka. Kitty dan Jennie biasa membantu ibu dan ayahnya di pasar. Mereka dengan senang hati membantu meringankan pekerjaan ibunya. Orang tua keduanya sangat menyayangi mereka.
Tam Mei-Chu, chu-chu panggilannya. Saat ia bercerita di depan kelas apa yang membuat ia merasa terganggu. Ia menjawab bahwa ia paling takut dengan raksasa guntur. Setiap harinya ia hidup bersama bibinya. Bibinya yang sebatang kara pun dengan senang bersedia merawatnya. Sepulang sekolah, Lui Wai Hung bertanya mengenai raksasa guntur kepadanya. Ternyata, yang membuat Chu-chu berkata seperti itu karena ia menganggap petir keras dan kilat yang seramlah memakan kedua orang tua ia, setiap turun hujan dan suara petir menyambar, sering kali ia membayangkan  raksasa guntur membuka mulut dan memakan kedua orang tua ia. Ada trauma tersendiri dalam dirinya, sehingga ia sering kali takut saat hal itu terjadi.
Yang terahir Lo Ka-Ka. Ia tidak berkata apapun saat gilirannya maju di depan kelas untuk menceritakan apa yang ia senangi dan apa yang mengganggu ia. Ia juga termasuk anak yang beruntung karena kedua orang tuanya masih bersamanya. Namun, pernah suatu hari ia tidak masuk kelas. Liu Wai Hung pun pergi mencari rumahnya. Saat bertemu dengannya di rumah, ayahnya sangat cuek dan pemarah. Namun, ibunya merasa tidak enak dengan perlakuan suaminya terhadap Liu Wai Hung. Didalam ada Ka-ka, saat Liu Wai Hung menghampiri dan menanyakan kenapa ia tidak masuk kelas ka-ka mendesah dan menangis. Liu Wai Hung mencoba membuat ia menjawab dan akhirnya ka-ka cerita dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia takut orang tuanya bertengkar dan bisa jadi saling membunuh. Maka ia harus melihat mereka, karena takut jika hal itu terjadi, maka ia akan sendirian. Ia takut hidup sendiri tanpa orang tua, sehingga ia harus tetap di rumah melihat dan mengawasi mereka. Ayah dan ibunya mendengar dengan jelas perkataan anak mereka. Mereka menundukkan kepala, dan sang ibu memeluknya. Sejak kejadian itu, ayahnya tidak lagi pemarah dan berusaha membuat ka-ka tenang.
Bervariasi sekali kisah hidup mereka. Mendrama dan penuh air mata. Namun, mereka hebat, mereka sanggup dan menikmati keseharian mereka. Meskipun, ada banyak rasa kekhawatiran yang menghantui diri mereka karena takut kehilangan kasih sayang orang tuasepenuhnya.
Selang 4 bulan, hari pelepasan pun tiba. Lo Ka-ka satu-satunya siswa yang lulus tahun ini. Ia bertekat menjadi kepala sekolah kelak

Trailer Movie: Link

Tidak ada komentar:

Posting Komentar