![]() |
| gambar dari Link |
LITTLE
BIG MASTER
Kepala sekolah kecil, istilah lainnya jika dirubah menjadi bahasa Indonesia. Kisah ini diperankan oleh seorang guru dari Hongkong yang mengerti betul kebutuhan pendidikan bagi anak usia dini. Lembut, sikapnya ke-ibuan penuh kasih sayang.
Namanya Lui Wai Hung, kepala sekolah
TK Internasional. Ia telah lama bekerja disana. Suaminya, Mr. Dong-dong bekerja
di museum. Mr. Dong-dong sangat mencintainya, dia bangga mempunyai seorang
istri yang membuat dia sendiri bangga akan dirinya olehnya.
Ada sebuah
desa, Yuen Tin namanya. Warga disana mayoritas keluarga kurang mampu.Karena
banyaknya keluarga yang seperti itu, maka seorang kakek dan istrinya
mempelopori sekolah gratis alias tanpa biaya untuk membantu mereka. Tahun-tahun
sebelumnya, sekolah itu beroperasi dengan baik dan lancar. Ya, layaknya
sekolahan, ada guru juga ada siswa. Pemerintah pun ikut berkontribusi
menyediakan apa-apa yang diperlukan.Namun, tahun ini ada kabar tidak sedap dari
bibir ke bibir, dikabarkan bahwa sekolah tersebut akan dibubarkan dan ditutup.
Sehingga, masyarakat pun terbius akan berita itu, dan membuat mereka tidak lagi
menyekolahkan anak-anaknya. Hanya tersisa 5 orang anak yang salah satu dari
mereka harus sudah lulus di tahun ajaran ini.
Dahulu,
pemerintah sangat berkontribusi terhadapnya. Namun, karena alasan keterbatasan
siswa, pemerintah pun lepas tangan.Mengetahuihal itu, Lui Wai Hung tidak tega
menelantarkan anak-anak manis itu, segera ia mencari tahu informasi dan
melangkah ke lokasi. Saat sampai, ia mengintip dari jendela dan terlihat 5
siswa tertidur di dalam kelas. Ketika mengamati sekitar itu dari jendela, salah
satu anak terbangun, kaget, dan refleknya teriak lalu sembunyi di papan tulis.
Teman yang lain pun terbangun dan mengikutinya. Perlahan Lui Wai Hung merayu
mereka, mengambil hati mereka agar tidak menganggap ia orang jahat. Dengan
caranya ia berhasil merayu mereka dengan mempertanyakan“jumlah kaki hewan-hewan
yang tergambar” di papan tulis itu. Sedang asyiknya mereka saling bercengkrama,
tiba-tiba petir hebat terdengar keras dengan suasana mendung yang horor.
Seorang perempuan pun datang dan mengusirnya. Lalu membawa anak-anak keluar
kelas, karena hujan.
Sehari
setelahnya, Lui Wai Hung bersama suaminya menghampiri kakek dan istri yang
mempelopori sekolah tersebut. Kakek dan istrinya itu sudah pasrah dengan
keadaan sekolah. Namun, Lui Wai Hung meyakinkan mereka bahwa ia bisa
melanjutkan mendidik 5 anak dan meluluskan salah satu diantaranya. Kakek itu pu
percaya akan ucapannya. Karena melihat ambisi dan niat baiknya, suami Lui Wai
Hung pun pada akhirnya mengijinkan ia mengajar sekolah kembali.
Hari
pertama sekolah dimulai. Anak-anak berdatangan satu per satu bersama wali
mereka. Orang-orang yang sedang duduk di warung depan sekolah melihat dengan sinisdan
menghujat bahwa sekolah itu tidak akan berlangsung lama. Namun, Lui Wai Hung
tidak pernah mendengarkan kalimat negatif itu.
Setelah
semua datang, lalu mereka berjalan menuju ke kelas. Kondisi anak-anak memakai
masker dan masih sangat canggung. Lui Wai Hung harus merayu lagi anak-anak,
supaya mau melepas maskernya. Ia memerintahkan mereka berdiri, membuka masker,
dan berkata “hadir” saat disebut namanya. Awalnya ia yang mencontohkan dirinya.
Anak-anak pun mulai mau membuka mulut dan bicara sangat dekat.
Ho Siu-Shet,
hadir !
Kitty Fatima,
hadir !
Jennie Fatima,
Hadir !
Tam Mei-Chu,
hadir !
Lo Ka-Ka, hadir
!
Dan
semua tersenyum dan tertawa riang gembira. Karena belum kenal secara jauh. Lui
Wai Hung, mengisi hari pertama untuk mengenal mereka lebih dekat. Satu per satu
maju dan menceritakan hal yang membuat bahagia dan yang membuat mereka
terganggu. Dimulai dari Ho Siu-Shet hingga Lo Ka-Ka yang terahir. Jawaban
mereka bervariasi. Namun, dari kegiatan itu membuat Liu Wai Hung mengerti
gambaran kisah hidup dan yang mereka jalani sehari-hari.
Ho
Siu-Shet, ia hidup bersama ayahnya yang sudah lanjut usia. Ibunya sudah lama
pergi ke china bersama kakaknya, namun tak kunjung kembali. Ia sangat mandiri,
menyediakan semua keperluannya dan ayahnya sendiri. Saat Liu Wai Hung
mengendarai mobil untuk pulang, ia melihat Ho Siu-Shet sedang bercengkerama
dengan orang dewasa. Ternyata ia telah menjual rongsok dan berjalan menuju
rumah setelahnya. Liu Wai Hung mengikutinya dan berkunjung ke rumahnya. Waktu
itu ayahnya sedang sakit. Ia merawat dan mengurus ayahnya sendiri dengan payah.
Namun, ia tidak pernah mengeluh. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam,
sebenarnya ia sangat rindu sosok seorang ibu hadir dalam hidupnya. Namun, mau
bagaimana lagi ibunya tidak pernah kembali.
Kitty
Fatima dan Jennie Fatima, mereka kembar dan selalu sama-sama. Mereka lebih
beruntung dari teman yang lainnya, karena kedua orang tua mereka masih bersama
mereka. Kitty dan Jennie biasa membantu ibu dan ayahnya di pasar. Mereka dengan
senang hati membantu meringankan pekerjaan ibunya. Orang tua keduanya sangat
menyayangi mereka.
Tam
Mei-Chu, chu-chu panggilannya. Saat ia bercerita di depan kelas apa yang
membuat ia merasa terganggu. Ia menjawab bahwa ia paling takut dengan raksasa
guntur. Setiap harinya ia hidup bersama bibinya. Bibinya yang sebatang kara pun
dengan senang bersedia merawatnya. Sepulang sekolah, Lui Wai Hung bertanya
mengenai raksasa guntur kepadanya. Ternyata, yang membuat Chu-chu berkata
seperti itu karena ia menganggap petir keras dan kilat yang seramlah memakan
kedua orang tua ia, setiap turun hujan dan suara petir menyambar, sering kali
ia membayangkan raksasa guntur membuka
mulut dan memakan kedua orang tua ia. Ada trauma tersendiri dalam dirinya,
sehingga ia sering kali takut saat hal itu terjadi.
Yang
terahir Lo Ka-Ka. Ia tidak berkata apapun saat gilirannya maju di depan kelas
untuk menceritakan apa yang ia senangi dan apa yang mengganggu ia. Ia juga
termasuk anak yang beruntung karena kedua orang tuanya masih bersamanya. Namun,
pernah suatu hari ia tidak masuk kelas. Liu Wai Hung pun pergi mencari
rumahnya. Saat bertemu dengannya di rumah, ayahnya sangat cuek dan pemarah.
Namun, ibunya merasa tidak enak dengan perlakuan suaminya terhadap Liu Wai
Hung. Didalam ada Ka-ka, saat Liu Wai Hung menghampiri dan menanyakan kenapa ia
tidak masuk kelas ka-ka mendesah dan menangis. Liu Wai Hung mencoba membuat ia
menjawab dan akhirnya ka-ka cerita dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia
takut orang tuanya bertengkar dan bisa jadi saling membunuh. Maka ia harus
melihat mereka, karena takut jika hal itu terjadi, maka ia akan sendirian. Ia
takut hidup sendiri tanpa orang tua, sehingga ia harus tetap di rumah melihat
dan mengawasi mereka. Ayah dan ibunya mendengar dengan jelas perkataan anak
mereka. Mereka menundukkan kepala, dan sang ibu memeluknya. Sejak kejadian itu,
ayahnya tidak lagi pemarah dan berusaha membuat ka-ka tenang.
Bervariasi
sekali kisah hidup mereka. Mendrama dan penuh air mata. Namun, mereka hebat,
mereka sanggup dan menikmati keseharian mereka. Meskipun, ada banyak rasa
kekhawatiran yang menghantui diri mereka karena takut kehilangan kasih sayang orang
tuasepenuhnya.
Selang
4 bulan, hari pelepasan pun tiba. Lo Ka-ka satu-satunya siswa yang lulus tahun
ini. Ia bertekat menjadi kepala sekolah kelakTrailer Movie: Link

Tidak ada komentar:
Posting Komentar